Rabu, 03 April 2019

Antara Seni Sastra dan Seni Teater



Antara Seni Sastra dan Seni Teater

Oleh: Nuri Thakya

Sastra dan teater merupakan dua bidang yang berbeda. Namun, keduanya bisa saling relevan. Bagaimana tidak, dunia perfilman tidak akan bergerak mulus bila tanpa setumpuk naskah yang notabene sastra/literasi dan ini adalah senjatanya para aktor/aktris. Tak dapat dipungkri bahwa banyak cerita-cerita dalam novel maupun cerpen sering dijadikan bahan baku untuk membangun sebuah film. Maka, hal ini adalah simbiosis yang tidak dapat dipisahkan, yang memang saling membutuhkan. Ya, sebuah novel juga membutuhkan film? Eh, bukan... bukan novel, karena novel cuma buku/benda mati. Terus... siapa dong yang butuh itu? Hemmm, penulisnya? Ya, kalau itu sih tidak usah dipertanyakan lagi ya, Kawan. Ya, jelas tentulah. Hehe...

Bukan cuma penulis dan produser yang saling membutuhkan, tetapi masyarakat pun. Loh... apa untungnya buat masyarakat?

Nah, baiklah saya klarifikasi:
Banyak variasi stori dalam Novel dan cerpen tergantung genrenya apa. Salah satunya genre memoar/non fiksi yang kisahnya inspiratif dan mengandung iktibar yang perlu diketahui khalayak umum. Tetapi, masalahnya, penggemar perfilman lebih dominan dibandingkan perbukuan. Masyarakat lebih gemar menonton daripada membaca. Setuju kan, Kawan?

Nah, maka tak heran ... banyak film yang mengangkat ceritanya dari novel/cerpen. Karena memang ceritanya perlu disajikan secara universal. Selain tontonan yang dapat memberikan tuntunan dan hikmah, juga menghibur jika jenis filmnya komedi. Ada pula yang menghibur anak-anak yaitu genre film fantasi. Namun, sayangnya saat ini jarang sekali layar lebar menayangkan cerita fantasi, padahal banyak novel-novel bergenre fantasi. Ada pun film anak yang saya ketahui cuma film petualangan Sherina dan Naura, setelah itu mana lagi?

Di layar kaca pun fantasi jarang tampak, kartun anak-anak pun sangat minim. Lihat saja hampir di setiap chanel kebanyakan sinetron yang sama sekali tak layak ditonton anak-anak.

Eh, tapi cukup! Saya tidak mau menyinggung soal jenis film lebih luas lagi. Karena takutnya malah memaparkan hal-hal yang di luar konteks.

Hemmm... judulnya antara seni sastra dan seni teater, ya.

Memang saya menyukai dua bidang itu. Bahkan sekarang saya menganggap dua hal itu satu jalur yang sama. Kenapa? Karena merasa ada tuntutan dalam hati untuk bisa melakukan keduanya. Faktanya, saya sudah merampungkan novel dan entah kenapa merasa punya kewajiban untuk memerankan tokoh dalam novel tersebut secara langsung. Hasrat itu pun bukan cuma muncul setelah saya menyelesaikan novel, tetapi saat awal menyukai sastra pun di tahun 2013 kala SMA, saya sudah mendambakan itu. Namun, saat itu sama sekali belum mengenal lebih jauh tentang kesastraan. Nulis cerpen pun seala kadarnya tak menghiraukan kaidah tanda baca dan PUEBI. Nulis ya nulis saja, tak ingin memperberat pikiran.

Dulu, menurut saya cerita yang menantang untuk dipraktikkan itu yang banyak dialognya. Tapi, itu cerpen dan novel ya, bukan skenario yang memang jelas begitu bentuknya. Jujur, sampai sekarang saya tidak suka cerpen maupun novel yang dialognya sangat minim, terus malah narasinya yang banyak. Dan yang paling jengkel itu membaca narasi yang mendeskripsikan suatu tempat dan karakter tokoh sampai beberapa paragraf, jadinya malah uring-uringan sambil bukunya ditutup.

Prinsip saya dalam menulis novel dan cerpen.

1. Berinovasi dalam cerita
Mengambil inspirasi dari kisah yang langka yang tidak pernah ditayangkan di film/sinetron maupun ditulis dalam novel lain.

Cara saya:
Memetik kisah nyata dari orang yang inspiratif dan unik. Faktanya ada teman saya yang mengidap penyakit kanker langka seperti kanker 'mediastinum'. Nah, tentu kawan-kawan merasa asing kan dengan istilah itu?

Cerita 'perkankeran' memang klise, tetapi penulis bisa berinovasi dengan membahas kanker langka yang belum pernah ditulis oleh penulis lain maupun difilmkan. Sesuatu yang baru itu tentu bisa memberikan informasi penting bagi masyarakat, suatu hal yang belum mereka ketahui yang bisa memberikan pelajaran berarti.

2. Judul

Judul adalah kalimat pemikat/magnetnya sebuah buku yang sangat berpengaruh besar terhadap daya jual. Jika daya tariknya kuat, maka siapa yang tak jatuh cinta dan ingin memilikinya?

Pertama-tama yang dilirik pembaca adalah judul buku. Kecuali kalau buku tersebut pengarangnya sudah beken, judul pun terkadang tidak dihiraukan, karena mereka tahu pengarangnya sudah lihai dalam merangkai kisah. Contohnya: Novel berjudul "pulang dan pergi" karya Tere Liye. Padahal menurut saya judulnya sama sekali tidak menarik.

Sekarang banyak novel populer terutama novel remaja itu kebanyakan judulnya memakai bahasa asing, yang memang kalau diartikan dalam bahasa indonesia itu sangat biasa dan mungkin kalau diindonesiakan, maka pembaca kurang terpikat. Dan ironisnya jika judulnya dalam bahasa asing terlihat keren dan bisa memikat dengan kuat.

Nah, kalau saya pribadi tidak suka demikian, justru malah suka memakai bahasa indonesia dan dengan kata-kata yang puitis.


3. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah bahan baku pembuat cerita. Maka, jangan harap sebuah novel bisa jadi kalau tanpa sudut pandang.

Hemmm... saya tidak akan membahas ada berapa jenis sudut pandang, karena itu klise ya, sudah berceceran artikel yang menginformasikan itu, dan saya yakin kalian pasti sudah tahu tentang materi itu.

Yang saya ingin beritahukan di sini, apa jenis sudut pandang yang suka saya gunakan?

Yaitu sudut pandang orang pertama. Kenapa? Ya, lebih leluasa saja kalau memakai POV 1, jadi secara otomatis penulisnya bisa terjun langsung dalam cerita. Dan menumpahkan seluruh perasaan dan emosi juga lebih mudah dibandingkan dengan POV 3 yang penulis cuma berperan sebagai narator saja. Kalau saya pribadi, POV 1 gampang dirasuki jiwa penulis daripada POV 3.

Nah, kalau kalian menggunakan POV 1, dan pembaca mengira kisah dalam novel/cerpen itu adalah true story-mu, padahal asumsi itu tidak benar. Itu berarti kalian sukses membawakan POV 1.


4. Mendalami karakter
Seperti halnya seorang aktor/aktris, pengarang juga harus menjiwai karakter tokoh yang ditulisnya. Penulis juga harus bisa akting dengan menjadikan tokoh dalam naskahnya sebagai diri sendiri. Hal ini harus dilakukan supaya pembaca merasakan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita tersebut adalah manusia yang memiliki nyawa dan berkepribadian yang khas.

Cara saya:

Belajar menjiwai berbagai karakter dengan cara mengikuti sanggar akting/teater. Memang kepekaan jiwa dan hati perlu dilatih secara nyata, sebab dari praktiklah bisa mempertajam kemampuan dalam suatu hal, bukan cuma membaca buku dan berangan-angan, tetapi harus diwujudkan dengan 'action'.

Menurut orang lain, cara demikian mungkin konyol dan tak perlu dilakukan. Ada yang bilang, "Emangnya mau jadi artis. Mendalami karakter buat karangan cerita, nggak harus sampai segitunya, kali ...."

Ya, itu kisah nyata. Ada teman saya yang bilang begitu. Terus ditambahi, "Ah, bilang aja lo kepengen jadi artis juga, kan?"

Jujur, memang saya sangat mencintai seni peran. Kalau ditanya apakah saya ingin jadi artis? Maka jawabannya 'iya'. Nah, loh ... malah banyak yang kontra, kebanyakan yang pro kalau saya jadi penulis saja itu yang cocok daripada jadi artis. Mereka malah menertawakan dengan nada mengejek, "Bercita-cita itu boleh tinggi. Tapi, kalau nggak menyadari kemampuan diri bisa jatuh sakit jiwa. Jangan muluk-muluklah ... skill lo yang menonjol cuma mengarang cerita aja udah."

Lantas saya membungkam mulut mereka dengan mengatakan, "Asal kalian tahu, ya. Penulis juga seorang artis. Kenapa? Karena penulis/pengarang itu menggeluti kesenian juga yaitu seni sastra. Dan apa kalian tahu definisi artis itu apa? Yaitu seniman. Jadi, sah-sah saja kan orang-orang seni berhak disebut artis, termasuk seorang pengarang cerita juga?" Sontak mereka pada diam.

Suatu cerita bisa kaya rasa bila tokoh-tokoh dalam ceritanya memiliki karakter beraneka ragam yang kuat. Dan itu tidak akan tercipta jika penulisnya tidak ikut mengecap berbagai karakter tersebut.

Dengan penjiwaan yang total, tentu membuat penonton atau pembaca terhipnotis dengan stori yang kita sajikan. Dan akan menimbulkan kesan yang mendalam meski bukunya sudah ditutup, dan walau filmnya sudah tak ditayangkan lagi.

5. Mencantumkan alur, latar tempat dan waktu

Agar urutan cerita berjalan sistematis, maka alur, latar tempat dan waktu harus jelas.

Cara saya:

Selalu mencantumkan keterangan waktu dan tempat di setiap paragraf atau adegan. Itu supaya pembaca tidak kebingungan, kapan berlangsungnya suatu kejadian dan di mana tempatnya.

Terus alurnya, saya pribadi lebih memilih alur maju daripada alur mundur, dan juga tidak suka alur campuran yang bisa memusingkan diri.


Sekian ....

Semoga artikel singkat versi saya ini bermanfaat dan bisa dipahami ya, Kawan-kawan. 😊

Maaf, jika ada kesalahan kata-kata dan kekurangan dalam menyampaikan informasi ini. 🙏🙏🙏

Salam santun dan salam literasi. 🙏😊
















Antara Seni Sastra dan Seni Teater



Antara Seni Sastra dan Seni Teater

Oleh: Nuri Thakya

Sastra dan teater merupakan dua bidang yang berbeda. Namun, keduanya bisa saling relevan. Bagaimana tidak, dunia perfilman tidak akan bergerak mulus bila tanpa setumpuk naskah yang notabene sastra/literasi dan ini adalah senjatanya para aktor/aktris. Tak dapat dipungkri bahwa banyak cerita-cerita dalam novel maupun cerpen sering dijadikan bahan baku untuk membangun sebuah film. Maka, hal ini adalah simbiosis yang tidak dapat dipisahkan, yang memang saling membutuhkan. Ya, sebuah novel juga membutuhkan film? Eh, bukan... bukan novel, karena novel cuma buku/benda mati. Terus... siapa dong yang butuh itu? Hemmm, penulisnya? Ya, kalau itu sih tidak usah dipertanyakan lagi ya, Kawan. Ya, jelas tentulah. Hehe...

Bukan cuma penulis dan produser yang saling membutuhkan, tetapi masyarakat pun. Loh... apa untungnya buat masyarakat?

Nah, baiklah saya klarifikasi:
Banyak variasi stori dalam Novel dan cerpen tergantung genrenya apa. Salah satunya genre memoar/non fiksi yang kisahnya inspiratif dan mengandung iktibar yang perlu diketahui khalayak umum. Tetapi, masalahnya, penggemar perfilman lebih dominan dibandingkan perbukuan. Masyarakat lebih gemar menonton daripada membaca. Setuju kan, Kawan?

Nah, maka tak heran ... banyak film yang mengangkat ceritanya dari novel/cerpen. Karena memang ceritanya perlu disajikan secara universal. Selain tontonan yang dapat memberikan tuntunan dan hikmah, juga menghibur jika jenis filmnya komedi. Ada pula yang menghibur anak-anak yaitu genre film fantasi. Namun, sayangnya saat ini jarang sekali layar lebar menayangkan cerita fantasi, padahal banyak novel-novel bergenre fantasi. Ada pun film anak yang saya ketahui cuma film petualangan Sherina dan Naura, setelah itu mana lagi?

Di layar kaca pun fantasi jarang tampak, kartun anak-anak pun sangat minim. Lihat saja hampir di setiap chanel kebanyakan sinetron yang sama sekali tak layak ditonton anak-anak.

Eh, tapi cukup! Saya tidak mau menyinggung soal jenis film lebih luas lagi. Karena takutnya malah memaparkan hal-hal yang di luar konteks.

Hemmm... judulnya antara seni sastra dan seni teater, ya.

Memang saya menyukai dua bidang itu. Bahkan sekarang saya menganggap dua hal itu satu jalur yang sama. Kenapa? Karena merasa ada tuntutan dalam hati untuk bisa melakukan keduanya. Faktanya, saya sudah merampungkan novel dan entah kenapa merasa punya kewajiban untuk memerankan tokoh dalam novel tersebut secara langsung. Hasrat itu pun bukan cuma muncul setelah saya menyelesaikan novel, tetapi saat awal menyukai sastra pun di tahun 2013 kala SMA, saya sudah mendambakan itu. Namun, saat itu sama sekali belum mengenal lebih jauh tentang kesastraan. Nulis cerpen pun seala kadarnya tak menghiraukan kaidah tanda baca dan PUEBI. Nulis ya nulis saja, tak ingin memperberat pikiran.

Dulu, menurut saya cerita yang menantang untuk dipraktikkan itu yang banyak dialognya. Tapi, itu cerpen dan novel ya, bukan skenario yang memang jelas begitu bentuknya. Jujur, sampai sekarang saya tidak suka cerpen maupun novel yang dialognya sangat minim, terus malah narasinya yang banyak. Dan yang paling jengkel itu membaca narasi yang mendeskripsikan suatu tempat dan karakter tokoh sampai beberapa paragraf, jadinya malah uring-uringan sambil bukunya ditutup.

Prinsip saya dalam menulis novel dan cerpen.

1. Berinovasi dalam cerita
Mengambil inspirasi dari kisah yang langka yang tidak pernah ditayangkan di film/sinetron maupun ditulis dalam novel lain.

Cara saya:
Memetik kisah nyata dari orang yang inspiratif dan unik. Faktanya ada teman saya yang mengidap penyakit kanker langka seperti kanker 'mediastinum'. Nah, tentu kawan-kawan merasa asing kan dengan istilah itu?

Cerita 'perkankeran' memang klise, tetapi penulis bisa berinovasi dengan membahas kanker langka yang belum pernah ditulis oleh penulis lain maupun difilmkan. Sesuatu yang baru itu tentu bisa memberikan informasi penting bagi masyarakat, suatu hal yang belum mereka ketahui yang bisa memberikan pelajaran berarti.

2. Judul

Judul adalah kalimat pemikat/magnetnya sebuah buku yang sangat berpengaruh besar terhadap daya jual. Jika daya tariknya kuat, maka siapa yang tak jatuh cinta dan ingin memilikinya?

Pertama-tama yang dilirik pembaca adalah judul buku. Kecuali kalau buku tersebut pengarangnya sudah beken, judul pun terkadang tidak dihiraukan, karena mereka tahu pengarangnya sudah lihai dalam merangkai kisah. Contohnya: Novel berjudul "pulang dan pergi" karya Tere Liye. Padahal menurut saya judulnya sama sekali tidak menarik.

Sekarang banyak novel populer terutama novel remaja itu kebanyakan judulnya memakai bahasa asing, yang memang kalau diartikan dalam bahasa indonesia itu sangat biasa dan mungkin kalau diindonesiakan, maka pembaca kurang terpikat. Dan ironisnya jika judulnya dalam bahasa asing terlihat keren dan bisa memikat dengan kuat.

Nah, kalau saya pribadi tidak suka demikian, justru malah suka memakai bahasa indonesia dan dengan kata-kata yang puitis.


3. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah bahan baku pembuat cerita. Maka, jangan harap sebuah novel bisa jadi kalau tanpa sudut pandang.

Hemmm... saya tidak akan membahas ada berapa jenis sudut pandang, karena itu klise ya, sudah berceceran artikel yang menginformasikan itu, dan saya yakin kalian pasti sudah tahu tentang materi itu.

Yang saya ingin beritahukan di sini, apa jenis sudut pandang yang suka saya gunakan?

Yaitu sudut pandang orang pertama. Kenapa? Ya, lebih leluasa saja kalau memakai POV 1, jadi secara otomatis penulisnya bisa terjun langsung dalam cerita. Dan menumpahkan seluruh perasaan dan emosi juga lebih mudah dibandingkan dengan POV 3 yang penulis cuma berperan sebagai narator saja. Kalau saya pribadi, POV 1 gampang dirasuki jiwa penulis daripada POV 3.

Nah, kalau kalian menggunakan POV 1, dan pembaca mengira kisah dalam novel/cerpen itu adalah true story-mu, padahal asumsi itu tidak benar. Itu berarti kalian sukses membawakan POV 1.


4. Mendalami karakter
Seperti halnya seorang aktor/aktris, pengarang juga harus menjiwai karakter tokoh yang ditulisnya. Penulis juga harus bisa akting dengan menjadikan tokoh dalam naskahnya sebagai diri sendiri. Hal ini harus dilakukan supaya pembaca merasakan bahwa tokoh-tokoh dalam cerita tersebut adalah manusia yang memiliki nyawa dan berkepribadian yang khas.

Cara saya:

Belajar menjiwai berbagai karakter dengan cara mengikuti sanggar akting/teater. Memang kepekaan jiwa dan hati perlu dilatih secara nyata, sebab dari praktiklah bisa mempertajam kemampuan dalam suatu hal, bukan cuma membaca buku dan berangan-angan, tetapi harus diwujudkan dengan 'action'.

Menurut orang lain, cara demikian mungkin konyol dan tak perlu dilakukan. Ada yang bilang, "Emangnya mau jadi artis. Mendalami karakter buat karangan cerita, nggak harus sampai segitunya, kali ...."

Ya, itu kisah nyata. Ada teman saya yang bilang begitu. Terus ditambahi, "Ah, bilang aja lo kepengen jadi artis juga, kan?"

Jujur, memang saya sangat mencintai seni peran. Kalau ditanya apakah saya ingin jadi artis? Maka jawabannya 'iya'. Nah, loh ... malah banyak yang kontra, kebanyakan yang pro kalau saya jadi penulis saja itu yang cocok daripada jadi artis. Mereka malah menertawakan dengan nada mengejek, "Bercita-cita itu boleh tinggi. Tapi, kalau nggak menyadari kemampuan diri bisa jatuh sakit jiwa. Jangan muluk-muluklah ... skill lo yang menonjol cuma mengarang cerita aja udah."

Lantas saya membungkam mulut mereka dengan mengatakan, "Asal kalian tahu, ya. Penulis juga seorang artis. Kenapa? Karena penulis/pengarang itu menggeluti kesenian juga yaitu seni sastra. Dan apa kalian tahu definisi artis itu apa? Yaitu seniman. Jadi, sah-sah saja kan orang-orang seni berhak disebut artis, termasuk seorang pengarang cerita juga?" Sontak mereka pada diam.

Suatu cerita bisa kaya rasa bila tokoh-tokoh dalam ceritanya memiliki karakter beraneka ragam yang kuat. Dan itu tidak akan tercipta jika penulisnya tidak ikut mengecap berbagai karakter tersebut.

Dengan penjiwaan yang total, tentu membuat penonton atau pembaca terhipnotis dengan stori yang kita sajikan. Dan akan menimbulkan kesan yang mendalam meski bukunya sudah ditutup, dan walau filmnya sudah tak ditayangkan lagi.

5. Mencantumkan alur, latar tempat dan waktu

Agar urutan cerita berjalan sistematis, maka alur, latar tempat dan waktu harus jelas.

Cara saya:

Selalu mencantumkan keterangan waktu dan tempat di setiap paragraf atau adegan. Itu supaya pembaca tidak kebingungan, kapan berlangsungnya suatu kejadian dan di mana tempatnya.

Terus alurnya, saya pribadi lebih memilih alur maju daripada alur mundur, dan juga tidak suka alur campuran yang bisa memusingkan diri.


Sekian ....

Semoga artikel singkat versi saya ini bermanfaat dan bisa dipahami ya, Kawan-kawan. 😊

Maaf, jika ada kesalahan kata-kata dan kekurangan dalam menyampaikan informasi ini. 🙏🙏🙏

Salam santun dan salam literasi. 🙏😊